Epilepsi atau ayan tidak hanya berupa reaksi tubuh kelojotan atau kejang-kejang disertai keluar air liur. Penyakit epilepsi juga bisa bermanifestasi dalam bentuk bengong. Orang yang bengong namun tidak sadar meski telah ditepuk atau dipanggil namanya, menunjukkan gejala epilepsi.
Hal ini bisa menurunkan prestasi belajar pada anak atau konsentrasi kerja bagi pekerja. Sayangnya, hingga kini belum diketahui pasti berapa jumlah penderita epilepsi maupun sebarannya di Indonesia. Yayasan Epilepsi Indonesia berupaya menjaring data itu dengan membuat survei yang bisa diakses di http://www.ina-epsy.org. Namun sayangnya, sejak beberapa waktu diluncurkan, peserta survei masih puluhan orang.
Ia mengatakan, survei ini akan sangat membantu dalam memberi masukan kepada pemerintah atau pun menjadi bahan dalam pemberian pertolongan/perawatan bagi pasien.
Epilepsi (epilepsy) bisa sulit untuk didiagnosis pada anak-anak karena mereka belum bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan atau alami.Gejala yang muncul bisa jadi dianggap sebagai gejala kondisi lain, sehingga selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak terdiagnosis dengan tepat.
Gejala yang muncul pada setiap anak akan bervariasi dan tergantung pada jenis epilepsi yang diderita.
Oleh karena itu sangat penting untuk mengenali gejala-gejala epilepsi pada anak.
Epilepsi yang tidak segera ditangani dapat mengakibatkan anak menjadi tidak mampu belajar dan mengalami masalah perilaku serta sosial.
Berikut adalah beberapa gejala epilepsi yang bisa muncul pada anak:
1. Tatapan Mata Kosong
Jika anak berhenti melakukan apa yang sedang dia lakukan dan menatap dengan tatapan mata kosong seperti melamun, orang tua harus waspada. Gejala ini disebut sebagai kejang petit mal (petit mal seizure).
Lengan atau kepala anak mungkin akan tampak lunglai, namun kejang jenis ini biasanya tidak akan menyebabkan anak jatuh ke bawah atau kehilangan kesadaran.
Setelah kejang berakhir (berlangsung dalam waktu 30 detik sampai satu menit) anak tidak akan menyadari apa yang telah terjadi.
2. Kejang Total (Total Convulsions)
Kejang grand mal (grand mal seizures) adalah penyebab kejang total tubuh. Kejang ini merupakan kejang yang paling serius. Kejang total akan menyebabkan anak jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran.
Kejang total biasanya berlangsung sekitar 2 sampai 5 menit. Selama kejang berlangsung tubuh anak akan kaku dan bergetar tak terkendali.
Anak mungkin akan kehilangan kontrol kandung kemihnya, sehingga keluar air seni tanpa disadarinya. Selain itu, air liur mungkin juga akan keluar disertai bola mata anak yang memutar ke belakang.
Setelah kejang berakhir, anak akan bingung selama beberapa menit, otot-ototnya menjadi sakit dan akan tertidur untuk waktu yang lama.
3. Kedutan (Twitching)
Meskipun kedutan dapat muncul pada berbagai jenis epilepsi, namun akan terlihat lebih jelas pada epilepsi fokal.
Kedutan biasanya bersifat lokal, kemungkinan dimulai pada satu jari atau telapak tangan.
Kemudian akan semakin memburuk, menjalar hingga ke lengan kemudian menyebar sampai sebagian atau seluruh tubuh menjadi berkedut. Sebagian anak tetap sadar, namun sebagian yang lain akan kehilangan kesadaran saat mengalami gejala ini.
4. Aura
Aura dianggap sebagai tanda peringatan. Aura terjadi sesaat sebelum kejang berlangsung.
Sebuah aura dapat menyebabkan anak tiba-tiba merasa sakit tanpa sebab, mendengar suara yang tidak nyata, atau mencium bau yang tidak ada sumbernya.
Anak juga akan mengalami masalah dengan penglihatan atau perasaan aneh di suatu tempat di bagian tubuhnya, terutama di perutnya.
Walaupun anak mungkin tidak mengenali tanda-tanda peringatan sebagai aura, seiring berjalannya waktu Anda akan dapat menghubungkan tanda-tanda awal dengan serangan epilepsinya.[
Pertolongan pertama bagi penderita epilepsi (ayan) sangat membantu pemulihan mereka sesudah serangan epilepsi mereka reda.
Melihat seseorang mendapat serangan epilepsi, apalagi jika ini adalah pengalaman pertama anda, adalah pengalaman yang cukup menegangkan. Namun, epileptik tidak akan membahayakan anda dan sedang sangat membutuhkan bantuan anda.
10 langkah pertolongan pertama yang dapat anda lakukan adalah:
- Tetap tenang.
- Perhatikanlah sekeliling anda. Apakah orang itu berada di tempat yang berbahaya, misalnya di dekat api, kolam atau tangga? Jika tidak, jangan pindah mereka. Pindahkahlah benda-benda dari sekitar mereka, misalnya meja dan lemari agar tidak jatuh menimpa mereka jika tertabrak.
- Catat lamanya serangan. Jika serangan berlangsung selama 5 menit tanpa berhenti, segera panggil ambulans atau siapkan kendaraan untuk mengantarnya ke rumah sakit.
- Temani mereka. Jika mereka tidak ambruk, tapi terlihat kosong atau bingung, tuntun mereka menjauh dari bahaya apapun. Berbicaralah dengan tenang.
- Jika mereka ambruk, letakkan sesuatu yang lembut dibelakang kepala mereka. Misalnya: bantal atau baju.
- Jangan berusaha menahan gerakan kejang mereka. Hal ini justru dapat melukai mereka.
- Jangan masukkan apapun ke mulut mereka. Mereka tidak akan mengigit lidah, jangan kawatir.
- Periksa kembali waktunya. Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, panggil ambulans.
- Sesudah kejang berhenti, letakkan mereka di posisi pemulihan dan periksa apakah pernafasan mereka kembali normal. Periksa mulut mereka untuk memastikan tidak ada benda yang menghalangi saluran pernafasan, misalnya makanan atau gigi palsu. Jika mereka sulit bernafas, segera panggil ambulans.
- Tetap bersama mereka hingga mereka pulih. Jika mereka terluka atau mendapat serangan lanjutan, segera panggil ambulans.
Jenis pengobatan epilepsi
By Admin, on August 7th, 2010
Pengobatan epilepsi (ayan) harus disesuaikan dengan jenis epilepsi yang dialami. Ada beberapa jenis pengobatan yang dapat digunakan untuk mengontrol atau menyembuhkan epilepsi.Obat-obatan
Obat epilepsi umumnya ditelan. Ada pula obat yang dimasukkan ke dubur bagi pasien cilik dan sedang dikembangkan obat semprot hidung yang dapat digunakan pada anak-anak atau pada saat epilepsi sedang berlangsung.
Jenis obat yang dikonsumsi harus sesuai dengan keputusan dokter, tergantung hasil diagnosa dokter terhadap jenis epilepsi yang diderita.
Ada orang yang bereaksi secara positif terhadap jenis obat tertentu, ada juga yang tidak mengalami kemajuan. Efek samping dari masing-masing obat juga berbeda untuk jenis obat yang berbeda.
Seringkali, perlu waktu untuk menyesuaikan jenis obat yang tepat dan dosis yang tepat.
Tujuan dari pengobatan adalah mengurangi intensitas dan frekuensi serangan epilepsi. Idealnya adalah ‘zero seizure’ (tidak ada serangan).
Jika zero seizure terjadi selama 2 tahun, maka dokter dan pasien dapat mempertimbangkan untuk menghentikan pengobatan. [Obat Epilepsi]
.
Operasi
Operasi pengang
katan bagian otak yang menyebabkan epilepsi telah dikembangkan selama 50 tahun dan terima dunia medis sebagai salah satu jenis pengobatan epilepsi, jika obat-obatan gagal mencegah terjadinya serangan epilepsi.
Dengan berkembangkan teknik operasi dan teknik identifikasi sumber epilepsi pada otak, tingkat keberhasilan operasi-operasi ini meningkat secara signifikan. Tentu saja, setiap prosedur operasi mengandung resiko masing-masing.
Diskusi dengan dokter sangat penting untuk menentukan apakah ini dapat menjadi jenis pengobatan yang tepat.
[Di Indonesia, Dr Zainal Muttaqin mempelopori operasi untuk pengobatan epilepsi. Beberapa rekan di Facebook Epilepsi Indonesia bertestimoni tentang kesembuhan atau berkurangnya epilepsi mereka. Dokter Epilepsi]
.
Stimulasi Saraf Vagus
Stimulasi saraf vagus adalah pengobatan dengan menyalurkan hantaran listrik pendek yang diarahkan ke otak melalui saraf vagus, yaitu saraf besar di leher. Energi listrik dihasilkan oleh baterai seukuran koin. Alat ini biasanya dipasang dibawah kulit di daerah dada.
Efektifitas stimulasi ini masih diselidiki.
.
Diet Ketogenik
Diet ketogenik adalah pola makan tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Pola makan ini membuat tubuh menghasilkan energi dengan membakar lemak, dan bukan membakar glukosa.
Studi menunjukkan bahwa pola makan ini membantu 2 dari 3 anak yang menggunakan pola makan ini. Satu dari 3 anak terbebas dari serangan epilepsi.
.
Pengobatan Alternatif
Efektifitas pengobatan modern biasanya diukur dari tingkat keberhasilannya di kelompok pengguna dengan jumlah yang cukup besar.
Pengobatan alternatif biasanya tidak mengikuti standar seperti ini sehingga efektifitasnya sulit dibuktikan.
Namun, beberapa pengobatan alternatif dikatakan penggunanya cukup efektif mengurangi atau menyembuhkan epilepsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar